BANYUWANGI – Rumah Sakit (RS) Al Huda (RSAH) menggelar simulasi Disaster Plan terhadap potensi risiko terjadinya bencana. Simulasi kewaspadaan bencana kebakaran tersebut dikemas dan dikombinasi dengan pelatihan bantuan hidup dasar bagi orang yang henti nafas.
Menurut Budi, Hartono, S. Kep, Ners, Ketua Komite K-3 RS Al Huda, dalam simulasi tersebut kuncinya adalah safe condition and safe action, yaitu peralatan dalam keadaan baik dan siap digunakan. Selain itu, petugas yang terlatih harus sigap menggunakan alat, sehingga penanggulangan bencana kebakaran dapat berjalan dengan baik.
Dijelaskan, kebakaran adalah salah satu jenis keadaan darurat yang berpotensi menjadi bencana, bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. “Ketenangan dan kewaspadaan dalam menghadapi kebakaran menjadi point penting dalam mengontrol dan mengantisipasi kebakaran agar tidak meluas,” ujarnya.
Budi mengungkapkan, beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bencana kebakaran tidak terjadi, yaitu sikap disiplin dan tanggung jawab personil, kewaspadaan, dan kesiagaan.
“Termasuk pengawasan terhadap bahan-bahan rawan terbakar, adanya standart prosedur yang jelas pada setiap peralatan, dan alat pemadam kebakaran harus dalam kondisi baik siap digunakan,” jelasnya.
Saat simulasi, disiapkan juga skenario adanya korban yang henti jantung. Beberapa petugas yang terlatih sigap melakukan bantuan hidup dasar bagi korban. Untuk mencapai tahapan tersebut, diperlukan latihan rutin berkelanjutan. “Insting karyawan terhadap kewaspadaan perlu diasah secara berkala. Sehingga tercipta kondisi siaga,” katanya.
Masih menurut Budi, kondisi alat yang baik dan siap, ditunjang petugas terlatih, membuat pasien dan keluarga merasa aman. Fasilitas sarana prasarana juga ahrus terjaga dengan baik sehingga pelayanan bisa optimal. (hud)

